Selalu
ada yang baru dan kreatif di dunia musik Indonesia. Kali ini, karya tersebut
dihadirkan oleh for Revenge bersama Stand Here Alone. Jika duet
solois untuk menyanyikan sebuah lagu sudah sering dilakukan, apa salahnya
menerapkan hal serupa, namun dengan cara yang sedikit berbeda? Dari situlah,
lahir kolaborasi antara for Revenge yang bergenre rock alternatif dengan
Stand Here Alone yang bergenre pop punk dalam single terbaru "Untuk
Kau yang Di Sana (UKYDS)" .
Menurut Boniex, vokalis for Revenge, lagu ini adalah tentang kerinduan
seseorang terhadap sosok yang sudah lama hilang dari hidupnya. Namun, tidak
hanya itu saja, jika ditelaah setiap liriknya, lagu ini lebih jauh bercerita
tentang masalah mental seseorang yang merasa sendirian, depresi, dan keberadaannya
tidak dianggap oleh sekitarnya.

Ide
untuk menyatukan dua band ini lahir lewat pemikiran Boniex sendiri yang
memang sudah berniat untuk mencobanya sejak lama. “Kami sering bertemu di
atas panggung dan beberapa kali berkolaborasi di acara off air. Karena itu, aku
tertarik untuk mencobanya dalam bentuk single. for Revenge cukup sering
berkolaborasi dengan solois, sementara berduet dengan band lain adalah untuk pertama
kalinya. Rasanya menjadi tantangan tersendiri dan sebuah pengalaman baru karena
tidak hanya sekadar menyanyikannya, tapi single ini juga kami tulis bersama.
Terlebih lagi, kolaborasi kali ini akan membawa pendengarnya bernostalgia ke
era 2000-an saat band ini berawal,” Boniex menjelaskan.
.JPG)
Taufik
Andryyansyah
atau yang lebih dikenal dengan nama Mbenk, bassis dan vokalis Stand
Here Alone, ikut menceritakan bagaimana mereka bisa bekerja sama dengan
band yang juga berasal dari Bandung tersebut. “Ini berawal dari ajakan
Boniex untuk bikin musik bareng. Dia mengirimkan satu demo mentah, yang hanya
musik saja, dan mengajak untuk bersama-sama mengerjakan sesuatu yang berbeda.
Kami langsung merasa klik dan akhirnya menyusun jadwal workshop buat menulis
lirik, menyusun notasi, dan membangun chemistry dari dua dunia musik yang
sebenarnya memiliki karakter berbeda, tapi ternyata bisa disatukan. Dari situ,
kerja sama ini terasa semakin solid, apa lagi ketika Samuel ikut merampungkan
aransemen musiknya. Saat rekaman pun terasa semakin istimewa karena kami
pertama kalinya rekaman dengan pengarah vokal dan itu dilakukan langsung oleh
Kamga. Benar-benar pengalaman yang sangat baru untuk Stand Here Alone".Senada
dengan Mbenk, Boniex menyebutkan bahwa ada kolaborasi penuh
antara kedua band di single ini. “Pengerjaannya berjalan sangat dinamis,
mulai dari workshop sampai rekaman. Tapi, yang membuat ini berkesan adalah
semuanya terasa mengalir. Untuk tantangannya sendiri, lebih pada menyatukan dua
karakter yang berbeda, terutama dari sisi notasi vokal dan penulisan lirik yang
dilakukan olehku dan Mbenk. Kami harus bisa menyatukan dua karakter band ini, for
Revenge yang emosional dan gloomy dengan Stand Here Alone yang catchy
dan enerjik. Untunglah, proses pembuatan single ini berjalan dengan
menyenangkan. Serius, tapi tetap santai. Kami memutuskan untuk saling terbuka
dan tidak mengedepankan ego sehingga semua berjalan mulus sampai akhirnya UKYDS
siap rilis".

Meski
punya dua aliran yang berbeda, Mbenk merasa bahwa beberapa bagian di
lagu ini memiliki energi khas Stand Here Alone. “Meskipun dominan
dengan nuansa gelap dan lirik yang emosional khas for Revenge, namun spirit
pop-punk dari Stand Here Alone tetap ada, seperti segi dinamika, tempo, dan
karakter vokal. Di situlah serunya karena kita akan mendengar satu lagu dengan
dua rasa. Hasilnya? Jujur, kami semua bangga".Bagi
Boniex, for Revenge dan Stand Here Alone berhasil menyuntikkan
ciri khas mereka masing-masing ke dalam UKYDS. “Stand Here Alone membawa
nuansa pop punk yang sangat kental di sini dan ini rasanya pertama kali for
Revenge memiliki lagu pop punk. Selain nuansa nostalgia, saat kalian mendengar
lagu ini, pasti akan muncul pertanyaan ‘Loh, ini lagu for Revenge?.

Boniex dan Mbenk pun setuju bahwa proyek ini bisa
menunjukkan bahwa kolaborasi lintas band bukanlah hal yang mustahil, bahkan
bisa menjadi sesuatu yang segar dan powerful. “Dua band yang punya ciri khas
kuat ternyata bisa menyatu, tanpa saling menutupi identitas masing-masing. Ini
bisa menjadi contoh untuk yang lain bahwa kolaborasi bukan tentang siapa yang
dominan, tapi bagaimana caranya saling menguatkan. Semoga lagu ini juga bisa
menjadi jembatan emosional bagi siapa pun yang sedang kehilangan atau yang pernah
mengalami perasaan "tidak bisa menyampaikan sesuatu ke seseorang yang
sudah tidak ada". Tidak hanya itu, kami ingin UKYDS bisa menjadi titik
awal bagi karya-karya kolaboratif yang lebih berani ke depannya,” tutup
Mbenk. Single terbaru for Revenge dan Stand Here
Alone, “Untuk Kau yang Di Sana (UKYDS)”, bisa didengarkan di
platform musik digital mulai 15 Juli 2025.