Selasa, 03 September 2024

DEWANDA PRATAMA LUNCURKAN SINGLE TERBARU "DATANG UNTUK BERTAMU"

Setelah sukses besar dengan debut single "Ingin Jadi Cintamu", penyanyi berbakat Dewanda Pratama kembali menghentak industri musik Indonesia dengan peluncuran single kedua yang sangat dinantikan, "Datang Untuk Bertamu".

Dewanda Pratama, yang dikenal sebagai jebolan Indonesia Idol Special Season, telah menunjukkan bakatnya yang luar biasa sejak awal. Single debutnya, "Ingin Jadi Cintamu", mendapat sambutan hangat dari para penggemar dan kritikus musik, membuktikan bahwa Dewanda adalah kekuatan baru yang patut diperhitungkan di dunia musik Tanah Air.

"Datang Untuk Bertamu" tidak hanya sekadar sekuel dari kesuksesan "Ingin Jadi Cintamu", tetapi juga merupakan penegasan dari kreativitas dan dedikasi Dewanda dalam menciptakan musik yang menginspirasi dan menyentuh hati pendengarnya. Lagu ini menampilkan sentuhan vokal yang mendalam dari penyanyi berbakat, Barsena, yang memberikan nuansa yang semakin menggugah dalam kisah yang disampaikan oleh lirik lagu ini.

Single terbaru Dewanda ini mengeksplorasi tema tentang kehadiran seseorang yang datang dalam hidup kita, bukan untuk selamanya, tetapi hanya sebagai tamu yang membawa luka. Dengan melodi yang memikat dan lirik yang mengena, "Datang Untuk Bertamu" menjanjikan pengalaman mendalam bagi para pendengar, mengajak mereka untuk merenung tentang arti kehadiran orang-orang terdekat dalam hidup mereka.

Tentang peluncuran single terbarunya, Dewanda Pratama mengatakan, "Saya sangat senang dan bersemangat untuk membagikan karya baru saya kepada dunia. 'Datang Untuk Bertamu' adalah cerminan dari perjalanan emosional saya, dan saya harap lagu ini dapat menyentuh hati setiap pendengar, seperti halnya 'Ingin Jadi Cintamu'.

Jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan keajaiban musik dari Dewanda Pratama. Segera dengarkan dan biarkan diri Anda terhanyut dalam keindahan melodi dan makna dalam liriknya.

KOIL RILIS ANTHEM UNTUK PERSIB BANDUNG BERJUDUL "HANYA UNTUK MENANG"

Grup industrial rock/metal asal Bandung, Koil, merilis lagu berjudul “Hanya Untuk Menang” Sabtu, 17 Agustus 2024. Perilisan ini adalah persembahan spesial atau anthem dari Otong (vokal), Donnyantoro (gitar), Vladvamp (bass, synthesizer), dan Leon Legoh (drum) untuk klub satu kota sekaligus favorit mereka sepanjang masa, PERSIB Bandung.

Lazimnya, karya-karya Koil sejak Megaloblast (2001) dan Blacklight Shines On (2007), trek “Hanya Untuk Menang” juga punya ciri khas yang berkelas: masih menyemburkan badai riff eksotis yang bersumber dari khazanah musik kencang kegemaran Donnyantoro selaku pencipta lagu sekaligus mesin utama musikal Koil.

Pembeda dan sisi istimewanya, trek ini terdengar otentik dan jejak-jejaknya tidak terdeteksi dari katalog-katalog musik Koil yang pernah ada sebelumnya. Karakteristik aransemen yang tersuguh terdengar lebih benderang, lantang nan menghantam, melodius, dan beraurakan atmosfer pemicu semangat yang super anthemic, lengkap dengan energi bergemuruh dan rancaknya nyala vokal saling bertautan yang membuat bergidik. “Sejak dulu saya pengin sekali bikin lagu yang mudah dinyanyikan oleh banyak orang, meskipun saya pernah melakukannya untuk lagu “Aku Rindu” dari album ‘Blacklight’, namun kali ini pengin dengan kadar dan level yang sedikit berbeda, lebih tepatnya seperti chant fans bola ketika mereka tengah menyaksikan langsung tim kesayangannya berlaga di dalam stadion,” ujar Donny sapaan akrabnya.

Bobotoh, sebagaimana kita ketahui adalah salah satu supporter bola yang terkenal massif, loyal, dan unik dalam urusan dukung mendukung klub kesayangannya yang berjuluk “Maung Bandung” itu, termasuk gelegar kekhasan chants yang kerap kali mereka gemakan di setiap laga PERSIB. “Pada suatu masa tetiba kepala saya seperti disambar petir. Sambaran itu lantas menghasilkan pola chanting, nadanya terus terngiang-ngiang dan menempel di kepala. Karenanya saya jadi semakin terpicu untuk membuat lagu dengan gaya seperti chants para fans bola,” katanya.

Lebih jauh, Donny juga mengaku memiliki hubungan emosional dengan PERSIB yang secara otomatis membawa rasa sentimental yang menggelora ketika tengah berproses menciptakan lagu “Hanya Untuk Menang”, salah satunya perihal ingatan pengalaman langsungnya menyaksikan PERSIB berlaga di dalam stadion bersama dengan ribuan Bobotoh. “Saya pribadi punya pengalaman pertama kali menonton langsung PERSIB berlaga di stadion itu ketika masih kecil. Sudah lama sekali, kira-kira sekitar tahun 1987. Saya dan Otong diajak oleh Almarhum Ayah. Di hari itu, PERSIB melakoni laga persahabatan melawan PSV Eindhoven (Belanda) di Stadion Siliwangi. Belakangan, saya menonton lagi ke stadion. Kali ini dengan anak yang juga pecinta sepak bola dan PERSIB, yang secara tidak langsung mendorong terulangnya memori dan ingatan masa lalu, terutama suasana riuh, gemuruh, dan beragam atmosfer lainnya yang pernah saya rasakan dulu,” ujarnya.

Momentum itu pula yang menurut penuturannya kemudian semakin mengencangkan gairahnya untuk membuat lagu bagi PERSIB dengan pendekatan yang anthemic. “Pengalaman langsung berada di stadion bersama ribuan Bobotoh itu jadi membuat semacam ada hubungan khusus nan emosional dengan tim dari pada ketika saya menontonnya di depan layar kaca. Emang PERSIB Bandung teh kudu meunang!,” kata Donny menambahkan.

Dari berbagai latar pemikiran dan pengalaman itu pula lagu “Hanya Untuk Menang” semakin nyata perbedaannya dibandingkan dengan lagu-lagu Koil yang pernah dirilis. Corong vokal yang sejatinya milik Otong seorang, kali ini dibagi menjadi 9 vokal utama. Di luar Otong dan 3 personil Koil yang juga ikut bernyanyi, ada 5 vokal tamu yang berbunyi sejajar dan sama keras. Mereka adalah Al Azthra Verdijantoro, Haryo Yudanto, Herbert Donny Indra, Joseph Cosmasyatta Siddi Widyasto, dan Marliana (Deana). “Saya penginnya memang membuat bunyi yang repetitif. Lagu ini bisa dibilang dari awal sampai akhir nadanya kurang lebih serupa, begitupun dengan liriknya yang cenderung lugas dan berulang-ulang. Tujuannya sesederhana agar mudah dinyanyikan. Dan harapan terbesar kami tentu agar di kemudian hari lagu “Hanya Untuk Menang” bisa dinyanyikan (sebagai chant) oleh para Bobotoh ketika PERSIB sedang berlaga,” kata Donny lagi yang kali ini juga berperan menulis lirik.

Menariknya, lagu “Hanya Untuk Menang” tercipta dan sudah rampung ditulis sejak bulan Februari 2024, atau berjarak 3 bulan menjelang PERSIB menasbihkan diri sebagai juara Liga 1 2023/2024, melengkapi torehan juara di musim perdana Liga Indonesia edisi 1994/1995 yang merupakan penggabungan dua kompetisi nasional, yaitu Perserikatan dan Galatama dan gelar juara kedua kali yang diraih pada musim 2014 atau musim yang dikenal dengan tajuk Liga Super Indonesia. Dengan demikian Pangeran Biru kini mencatatkan sejarah sebagai tim yang telah meraih tiga predikat kampiun dan berhak memasang tiga bintang di jersey kebanggaan dalam setiap laga yang akan dilakoni di pelbagai kompetisi rumput hijau tahun 2024/2025.

Meskipun lagu ini diciptakan sebagai anthem bagi PERSIB BANDUNG, secara tema, diakui Donny, “Hanya Untuk Menang” juga memiliki arti yang lapang dan bisa diterapkan di berbagai sisi kehidupan setiap manusia, dengan kata lain tidak melulu dan harus berhubungan secara langsung dengan sepak bola. “Motif dari lagu ini memang untuk memicu semangat agar PERSIB terus menang dalam setiap pertandingan. Tapi semangat di sini juga berkonotasi untuk menjaga kedamaian. Karena untuk menang kita tidak harus berperang. Kita semua juga harus yakin dan optimis kalau kita bisa menang dalam konteks apa pun, kemenangan adalah tema yang harus kita jalani dalam hidup. Kita harus punya semangat yang paling maksimal untuk menuai hasil yang juga optimal. Jadi, “Hanya Untuk Menang” itu adalah keyakinan untuk diri sendiri dan yakin dengan apa yang kita jalani".

Segendang sepenarian, Leon Legoh juga mengatakan: “Buat penggemar musik Indonesia, walau lagu ini secara khusus dibuat untuk PERSIB, tapi semangat yang Koil berikan berupa lirik dan musik di lagu ini adalah bahasa universal untuk sebuah semangat positif dan pantang menyerah yang bisa diaplikasikan ke semua hal dalam keseharian kita sebagai manusia". “Ini adalah persembahan spesial dari Koil untuk PERSIB secara keseluruhan, mulai dari Pemain, Bobotoh, Pengurus, dan semua yang mencintai dan mendukung PERSIB. Kita semua mencintai dan fans PERSIB, kebetulan kita musisi maka kita mempersembahkannya dalam bentuk lagu. Jadi buat para Bobotoh mari kita nyanyikan lagu "Hanya Untuk Menang" di setiap kesempatan untuk mendukung PERSIB,” kata Leon menambahkan.

Di sisinya yang lain, rilisnya lagu “Hanya Untuk Menang” adalah statement lanjutan bahwasanya Koil nyatanya tidak pernah tergerus zaman dan justru semakin prima dalam urusan merumus dan menciptakan karya baru yang mumpuni dan ajaibnya lagi memang selalu saja punya cara untuk mengarungi terjalnya belantara industri musik. Belakangan, Koil yang mengibarkan panjinya sejak tahun 1993 itu terus berupaya menebus janji menyelesaikan album penuh keempat yang tertunda belasan tahun lamanya. Sejak pagebluk, Koil, terus menarik tuas gas tanpa tedeng aling-aling dengan melepas berbagai proyek rilisan, baik itu album demo, cover songs, EP, proyek rekam ulang, dan rentetan lagu baru lengkap dengan bejibun varian versi remix-nya.

Secara teknis, “Hanya Untuk Menang” direkam di Bandung pada kuartal kedua 2024 dengan proses akhir audio—mixing dan mastering—oleh Al Azthra Verdijantoro alias Azthraal. Di luar melibatkan 5 vokalis tamu, lagu ini juga menghadirkan satu tamu khusus pada departemen dawai empat senar yaitu Iskandar Kunaefi. Sementara untuk sampulnya dikerjakan langsung oleh tangan dingin sang pencabik bass, Vladvamp.

Lagu dengan durasi tiga menit lebih 10 detik ini sudah bisa didengarkan di beragam toko musik digital seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, Deezer, dan lain sebagainya.

RIZKI COMEBACK KE THE TITTANS DENGAN ME REMAKE SINGLE "RASA INI"

The TITANS Comeback adalah sebuah titik balik kembalinya kami, The TITANS ke dunia musik Indonesia. Dengan bangga kami tampil kembali membawa vokalis awal, Rizki seperti potongan puzzle yang selama ini hilang. Kini The TITANS kembali secara utuh dengan urutan personil; Rizki - vokal, Indra - Bass, Oni - Gitar, Imot - Synth & Programmer, dan juga Tomtom - Drum. Tak hanya vokalis, kami juga merubah logo The TITANS sebagai simbol yang mewakili kembalinya kehadiran kami yaitu simple & elegan.

Kembali Meluncurkan Remake Hits Single Pertama Kami Rasa Ini ciptaan Indra dan Oni dengan sentuhan aransemen baru yang membuat Rasa Ini lebih fresh dengan tampilan vokal yang lebih dewasa. Kuatnya power dalam lagu ini, membuat kami untuk tetap menjaga rasa yang dimiliki tanpa mengubah liriknya sama sekali. Karna aransemen baru Rasa Ini, mewakilkan kesiapan kami untuk kembali ke dunia musik Indonesia setelah beberapa tahun kami hilang. Selain itu, tak lupa kami memilih Rasa Ini sebagai bentuk nostalgia dengan Titanium dimanapun mereka berada menjadi obat rasa yang sudah lama hilang.



TIKET MAU MENYAPA PENGGEMAR LAMA & BARU LEWAT SENANDUNG SERU "GAK MAU"

Formasi lama, lagu baru, lebih santai, dan lebih merdeka. Ini TIKET masa kini, datang kembali dengan tema patah hati lewat cara – justru tidak melankolis dan mendayu-dayu lewat "GAK MAU".

Bermula dari saling menyapa biasa, basa-basi menanyakan kabar, hingga berlanjut membentuk grup WhatsApp, malah akhirnya berujung pada ide menggulirkan TIKET kembali ke kancah musik Indonesia. Yang menarik, komposisi formasi TIKET hari ini bisa diistilahkan dengan "formasi baru rasa lama". Iya, formasinya merupakan formasi TIKET saat pertama kali terbentuk: Aqi Singgih (vokal), Arden Wibowo (gitar), Opet Alatas (bas), dan Brian Kresna Putro (drums).

Yang membedakan TIKET dulu dan sekarang, menurut Brian: "Dulu kita itu cenderung bergajulan dan meledak-ledak. Kalau sekarang sih lebih santai, melakukan hal-hal itu lebih strategic dan simple. Dan sekarang kami lebih bebas menentukan sendiri mau ngapain, tidak lagi diatur oleh label. Saat sudah sama-sama dewasa, kemerdekaan ini adalah berkah. Cukup tahu mau kemana, tenang dalam mengambil keputusan dan melakukan apa-apa".

"2-3 tahun belakangan ini kita berkumpul kita udah saling paham, saat membuat karya itu tidak lagi melebih-lebihkan, sekarang sudah sadar bahwa segini ini cukup. Sesuatunya gak dibikin sulit, dibikin ribet, porsinya segini, ya sudah, ini yang ideal," tambah Opet.

Sambutan publik terhadap remake "Hanya Kamu Yang Bisa" (Electric Version, 2022) yang bahkan telah ditonton lebih dari sejuta kali di YouTube, cukup mendongkrak rasa percaya diri TIKET bahwa keberadaan mereka masih relevan. Kuartet ini pun melanjutkan gebrakannya dengan merilis "Senjana" yang juga mendapat sambutan cukup baik. Sampai akhirnya datang lagi dengan karya termutakhir: "GAK MAU".

“Lagu ini menggambarkan tentang seseorang yang katanya mau berubah, nyatanya gak berubah juga. Sementara kesabaran orang tentu ada batasannya. Dan ‘GAK MAU’ adalah jawaban orang-orang yang sudah capek akan kesabaran itu tadi. Namun disampaikan dengan harmonisasi yang tenang dan sabar,” ujar Aqi.

Dibalut warna pop rock, senandung mid-tempo yang nyaman di kuping, "GAK MAU" sejatinya adalah kisah sedih di ranah asmara namun TIKET membungkusnya dengan pendekatan happy vibes, feel-good song. "Aqi yang punya ide awal 'GAK MAU'. Lalu kami ngumpul bareng di studio Aqi. Saling pancing, saling nimpalin, modelan jamming gitu. Dalam sehari bentuk lagu udah terbangun," ungkap Opet.


Komposisi dasar lagu bisa terbangun hanya dalam sehari bukan berarti materinya masih mentah, kurang matang, belum saatnya dirilis. Tapi justru menunjukkan bahwa TIKET sudah sangat mengenal satu sama lain. Apa-apa jadinya easy-going, menggelinding saja secara alami. Pun energi makin menguat karena optimisme di internal TIKET juga besar. "Ini sudah nyawa TIKET yang ke-6 ya. Gonta-ganti personel, Opet menjalani sendirian, masing-masing sibuk proyekan lain, ternyata ujung-ujungnya kita malah ngumpul lagi ya, jadi TIKET lagi. Ya artinya kita cukup tahan banting. Udah sebegitu, masa kita gak optimis?" pungkas Brian.


GAK MAU akan dirilis di di semua digital streaming platforms dari tanggal 22 Agustus 2024 bersamaan dengan video klip dari single tersebut di kanal YouTube TIKET

Senin, 02 September 2024

RAKHANO KISAHKAN SULITNYA MELUPAKAN SESEORANG LEWAT "SEMPAT TAK SEMPAT"

Setelah merilis dua single, yaitu “Ajarkanku Melepasnya” pada September 2023 dan “Berteman Saja Dulu” pada Februari 2024 lalu, penyanyi muda Faqih Rakhanoto atau yang lebih dikenal dengan panggilan Rakhano siap melepas single ketiga pada 16 Agustus mendatang yang berjudul “Sempat Tak Sempat”. Masih mengusung genre pop seperti dua lagu terdahulu, solois kelahiran Semarang, 11 Februari 2003, ini memilih lagu tersebut sebagai karya ketiganya karena merasa bahwa nada, pesan, dan liriknya akan terasa kena di hati siapa pun yang mendengarkan dan relate dengan banyak orang.

“Lagu ini bercerita tentang hubungan sepasang kekasih yang sudah berakhir. Besoknya, ternyata salah satu sudah punya pasangan baru. Pihak yang belum bisa move on mempertanyakan kenapa mantan pasangannya bisa seperti itu? Padahal, hubungan mereka sudah terjalin selama bertahun-tahun. Itulah tema yang diangkat dalam single ini, bahwa seseorang yang pernah menemani kita dan kita sayangi selama bertahun-tahun belum tentu memiliki perasaan yang sama besar seperti yang kita rasakan. Meskipun berat, tapi pada akhirnya, kita harus merelakan itu".

Dikerjakan selama tiga bulan, mulai dari demo sampai rekaman, beberapa bagian dirasakan Rakhano cukup menantang. “Ada part-part yang mengharuskan aku menyanyikan nada tinggi. Menurut aku, ini cukup menantang karena di dua lagu sebelumnya tidak setinggi ini. Namun, berkat bantuan tim Sony Music yang terlibat, pengerjaan single ini bisa berjalan dengan lancar. Semoga hasilnya bisa dinikmati oleh orang-orang yang mendengarkan seperti aku menikmati proses pembuatannya".

Memasuki single ketiga menjadi bagian dari perjalanan karier bermusiknya yang Rakhano syukuri. Ia tentunya tidak menyangka bisa merilis karya, bahkan hingga tiga single dan mendapat sambutan positif di platform musik digital. “Yang jelas, sejak single pertama dan kedua, banyak ilmu yang aku dapat. Namun, satu hal yang aku implementasikan dalam berkarya adalah tidak berharap terlalu tinggi dan tetap fokus pada apa yang ada. Maksudnya, punya tujuan jauh ke depan itu harus, tapi kita juga perlu bekerja keras menjalani apa yang ada di masa sekarang dengan sebaik-baiknya. Pelan-pelan, usaha dan kesuksesan yang terjadi di saat ini akan membawa kita untuk mencapai tujuan di masa depan,” jelas Rakhano.

Rakhano berharap, untuk ke depannya, ia dapat terus bernyanyi dan berkarya, membuat banyak lagu dan konten di berbagai platform, serta mempromosikan karya-karya yang sudah ia keluarkan. “Banyak sekali impianku untuk karier bermusikku yang masih jauh dari sempurna. Namun, untuk single “Sempat Tak Sempat”, aku harap, orang-orang yang mendengarkan akan suka dan suatu saat, aku bisa menghibur mereka secara langsung serta menyanyikan lagu ini bersama-sama di panggung".

KALEB J RILIS SINGLE "DI BALIK PERTANDA". MELANJUTKAN KISAH DARI MINI ALBUM YANG AKAN DATANG

Era baru dari Kaleb J telah dimulai. Selepas mengumumkan mini album terbarunya yang bertajuk “Off Guard” sekaligus merilis single ‘Melepaskanmu’ beberapa waktu lalu, kini single kedua dari mini album tersebut telah dirilis. Single bertajuk ‘Di Balik Pertanda’ ini menampilkan sisi lain dari cerita yang ingin disampaikan oleh Kaleb J pada mini albumnya. “Setelah dimulai dengan ‘Melepaskanmu’ dan dilanjut dengan ‘Di Balik Pertanda’, kemudian akan disusul dengan rilisan lagu-lagu lainnya yang ada di mini album ini,” ungkapnya.

‘Di Balik Pertanda’ menghadirkan nuansa yang dapat menjelaskan secara jelas perasaan bimbang, penasaran, dan keraguan yang dialami oleh Kaleb J. Itulah mengapa lagu ini digarap Kaleb dengan core instrument adalah gitar dan beat drum. “Karena lagu ini ceritanya tentang seseorang yang masih berharap bisa bersama walau tanda-tanda menunjukkan sebaliknya,” kisah Kaleb J tentang lagu ini. “Walau mereka sebenarnya sadar kalau mereka mungkin tidak ditakdirkan bersama, orang itu tetap terus mencoba mencari arti di balik semua itu,” lanjutnya. Dari segi songwriting, soundscape yang dipilih hingga cara bernyanyi Kaleb J untuk ‘Di Balik Pertanda’ memang dibuat berbeda dibanding single yang sebelumnya dia rilis. Tentu ini adalah hasil diskusinya bersama Belanegara Abe yang juga turut dibantu oleh banyak nama diantaranya: Dustin David, Jordan Christian Mustamu, Ogi Lugas, Hery Alesis, hingga Ano Stevano untuk proses Mixing dan Dimas Pradipta pada proses Mastering.

2 lagu yang sudah dihadirkan oleh Kaleb J dari mini album “Off Guard” ini memang saling terkait satu sama lainnya karena dia berusaha menyampaikan kisah-kisah pengalaman hubungan yang pernah dia alami sebagai sebuah cerita yang utuh. Setidaknya ada 3 single lainnya yang sudah siap untuk dirilis oleh Kaleb J yaitu: ‘Selimut Hati’, ‘Adinda’, dan ‘Untukmu’. Untuk ‘Di Balik Pertanda’ sendiri, Kaleb J berharap jika lagu ini dapat menjadi penanda sekaligus pengingat pada para pendengar musiknya untuk tidak mengusahakan cinta yang jelas-jelas tidak akan berhasil. “Apalagi kalau tanda-tanda itu sudah jelas,” kata Kaleb J. Simak single terbaru Kaleb J, ‘Di Balik Pertanda’, yang diambil dari upcoming mini album “Off Guard” miliknya di seluruh digital streaming platform di Indonesia.

JAZ HAYAT REMAKE LAGU LEGENDARIS FRANK SINATRA BERJUDUL "FLY ME TO THE MOON"

Solois muda Jaz Hayat, atau Jaz, siap menghadirkan kejutan manis bagi para penggemarnya. Dalam rangka perilisan sekaligus bagian dari promo film terbaru Sony Pictures Fly Me to the Moon, penyanyi kelahiran Brunei Darussalam, 5 Mei 1993, ini akan mengisi lagu tema dengan menyanyikan ulang lagu populer karya Bart Howard, “Fly Me to the Moon”. Hal ini tentunya sangat disyukuri Jaz yang melihat ini sebagai sebuah kesempatan besar sepanjang karier bermusiknya. “Aku merasa terhormat karena mendapat kesempatan untuk menyanyikan ulang salah satu lagu klasik yang sudah berkali-kali dilantunkan oleh berbagai penyanyi. Terima kasih kepada Sony Pictures karena sudah memilih aku langsung untuk menyanyikan lagu ini".

Sebagai informasi, lagu, “Fly Me to the Moon” diciptakan Bart Howard pada tahun 1954 dengan memakai judul awal “In Other Words”. Versi yang paling terkenal adalah versi yang dinyanyikan Frank Sinatra pada tahun 1964 dan dimuat di album It Might as Well Be Swing. Menurut Howard sendiri, pada saat versi Sinatra muncul, mungkin lagu ini sudah memiliki lebih dari 100 versi dengan penyanyi berbeda.

Meski mengusung genre jazz, namun untuk versi terbaru ini, aransemen “Fly Me to the Moon” (From Fly Me to the Moon Movie) akan disesuaikan dengan karakteristik Jaz. “Aku belum pernah menyanyikan lagu bergenre jazz murni dan aransemen lagu ini pun dibuat menyesuaikan dengan ciri khas dan sentuhan yang dimiliki seorang Jaz. Jadi, untuk para penggemar Jaz yang selama ini sudah terbiasa mendengar Jaz bernyanyi genre pop, tidak akan kaget saat mendengar “Fly Me to the Moon” (From Fly Me to the Moon Movie) yang cenderung ke arah jazz".

Prosesnya sendiri terbilang cepat karena hanya memakan waktu dua minggu, mulai dari rekaman hingga pembuatan video klip. Jaz bersyukur banyak pihak yang membantu pengerjaan single ini sehingga ia tidak menemui hambatan yang berarti. Namun, Jaz mengakui bahwa ia sempat merasakan keraguan untuk menyanyikan lagu legendaris ini. “Jujur, ada rasa takut saat harus menyanyikan “Fly Me to the Moon” (From Fly Me to the Moon Movie) karena memberikan nyawa di lagu ini cukup sulit mengingat ada banyak sekali versi di luar sana oleh penyanyi berbeda. Tapi, karena sudah diberi kepercayaan oleh pihak Sony Pictures, maka aku akan menyanyikan versiku dengan sebaik-baiknya. Semoga hasilnya tidak mengecewakan".

Jaz berharap versinya ini akan bisa diterima oleh seluruh masyarakat. “Semoga para penikmat musik bisa menikmati versi remake Jaz, baik itu penyuka genre jazz yang tahu versi klasik lagu ini atau pun penyuka musik secara umum yang belum pernah mendengarnya. Ini adalah lagu yang sangat digemari banyak orang dan juga legendaris, aku harap “Fly Me to the Moon” (From Fly Me to the Moon Movie) terbaru ini bisa diterima dan dinikmati semua orang juga.”  Single terbaru Jaz, “Fly Me to the Moon” (From Fly Me to the Moon Movie), bisa didengar di platform musik digital.


Closehead - Berdiri Teman (20th anniversary) Merupakan Proyek Remake dari Lagu Berdiri Teman yang Rilis 20 Tahun Lalu

Di awal kemunculannya lagu ini adalah katalis yang membesarkan nama Closehead dan menjadi entitas yang tidak terpisahkan dari Closehead itu ...